Perjalanan
Perahu kecil yang kutumpangi berlayar menyusuri pantai selatan pulau jawa, tidak hanya ombak laut selatan saja yang ganas, tetapi arus juga bisa menyeretku jika tidak hati-hati, perjalananku mengarah pada salah satu daratan di pulau jawa selatan tepatnya di Cilacap, berdampingan dengan pulau Nusakambangan yang katanya menyeramkan. Berdasarkan nawala aku harus mengemban tugas menjadi lurah kecil di tempat yang hening. Untuk menghibur diri suasana keheningan kugunakan untuk kontemplasi, yang secara kebetulan di dekat pendopo terdapat pohon beringin besar menaungi, sudah tua, dan tampak rapuh, namun disampingnya berdiri masjid bercat putih, anggun dan bersih.
Langkah pertamaku, kutanam pohon bunga nusa indah dan bunga cempaka kuning serta melati, selain bunganya indah yang lain beraroma harum mewangi. Selanjutnya aku duduk diatas lembaran koran yang sudah habis ku baca sampai iklan kecil-kecil. Aku merenung dan merenung makin dalam, angin laut pantai selatan dan teduhnya pohon beringin membawaku kusuasana sunya, sehingga teringat kembali lantunan seloka jawa "tan samar pamoring suksma, sinuksmoyo winahyo ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana, tarleng saking liyep, layap ing ngaluyup, pinda pesatng sumpena, sumusuping rasa jati", aku engga tau sloka itu lengkap apa tidak paling tidak itulah yang kuingat. Setelah sadar akan pemahaman itu, aku memahami bahwa wirya adalah anugerah, wirya adalah amanah dan semuanya tidak akan lepas dari kekuatan Allah penguasa alam semesta.
Tahun pertama, teman-teman pamong negaradanaraksa diwilayahku telah mencapai target lebih dari 200%, tahun kedua tercapai hampir 200%, tidak ada smokkel, tidak ada pemadat, tidak ada pemabok, ciu brendypun tidak beredar. Nagari yang aman, tata tentrem, gemah ripah loh jinawi, kang tinandur sarwo tukul. Pada putaran waktu tersebut, banyak pamong yang sudah lir gumanti bahkan ada yang 5 kali penempatan, meskipun ada yang belum tersentuh, termasuk saya. Ada yang melompat cepat, ada yang bergerak lambat, tetapi ada yang sama sekali tidak bergerak. Bagi yang bergerak cepat dan melompat, terimalah rasa hormat dan kekagumanku, anugerah Allah jadikanlah amanah dan ibadah, tidak ada rasa iri apalagi dengki, namun seandainya aku bertanya dalam hati, apakah ada yang kurang tepat tentang diriku. Mudah-mudahan ini tidak salah.
Sebagai insan biasa, harapan, cita-cita dan usaha pasti tak terlepaskan, katanya ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu. Terlintas sejenak pemikiran yang salah, percuma aku sekolah tinggi-tinggi, percuma aku dapat peringkat unggulan setiap pendidikan, percuma aku sekolah teknis, percuma aku belajar di luar negeri, percuma juga aku jaga diri untuk senantiasa berintegritas. Disaat egoku menguasai lamunanku, seekor belalang kecil menabarak selaput mataku. aku tersadar, dan tersadar kembali. Ya Allah Tuhanku, penguasa hati, jiwa dan raga, maafkan hamba, yang alpha, bahwa segalanya dan semuanya atas perkenanMu. Aku lupa telah dikarunia kesehatan, kecukupan, keluarga yang sakinah, tidak pernah ada yang bertengkar, dan semuanya mendukung, aku lupa kalau memiliki teman-teman yang sejati, sahabat dikala lara dan teman disaat bahagia. Maafkan aku ya Tuhan, aku sadar bahwa aku sebenarnya telah memiliki kebahagian yang tidak hanya sakjabaning daging kulit, tetapi kebahagiaanku bahkan telah sampai pada rumasuk ing jasad. Kalau ada yang lupa dan terlupa. memang kata ki Ronggowarsito, ini baru pada strata jaman edan. Ki bagus Burhan yang pernah kecewa karena tidak diangkat menjadi Bupati seperti yang pernah di janjikan itupun menulis "Sak beja-bejani wong kang lali isih bejo wong kang eling lan waspodo"
"Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu ngedan nora tahan, yen tan melu anglakoni boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersaning Alaah, sak beja-bejane wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo" Perahu kecilku kuikat pada tiang dermaga, dan aku akan melanjutkan kembali paramita.
Kamis, 08 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar